95% Mirip, 5% Ciri Khas
Dalam bingkai : Sampul depan dan belakang Antara Dua Pengabdian
Hampir setiap hari, Ummi menerima pesan pribadi dari pembaca. Seperti saat itu, seorang rekan wanita ASN di Pemerintah Kota Blitar memberikan tanggapannya, terhadap karya berjudul Antara Dua Pengabdian.
“Seluruh isi buku ini, nyaris 95% adalah yang saya rasakan. Sedangkan sisanya, merupakan ciri khas Ummi sebagai purna wanita praja penulis”, tulis sang rekan dalam chat What’s app.
Memang, Antara Dua Pengabdian, adalah sekumpulan catatan Ummi sebagai ibu dan perempuan pekerja. Terbit masih pada kisaran tahun 2024, karya ini sebenarnya berawal dari pemikiran, bahwa amanah wanita sangat luas. Mereka yang fokus di rumah, sebagai perisai ketahanan keluarga, layak diberikan penghargaan setinggi-tingginya. Sebab, memang itulah fitrah diri perempuan yang hakiki.
Sedangkan, yang bertekad meningkatkan kualitas dan taraf hidup, dengan bekerja. Baik itu dari dalam rumah, maupun di kantor dan perusahaan, juga mulia. Apalagi, yang menjadi tulang punggung keluarga atau mungkin belum beruntung bertemu jodohnya. Maka, aktualisasi diri layak diniatkan sebagai ibadah.
Hingga, para perempuan yang diamanahi mengepakkan sayap kiprahnya dengan tugas ganda, baik dari dalam rumah dan diiringi darma bakti kepada masyarakat, maupun bangsa. Maka, mereka adalah pribadi tangguh yang mesti kerap kita kuatkan. Karena, sungguh tak mudah membelah jiwa dan raga, terbagi pada bakti untuk keluarga dengan pengabdian terhadap negara.
Antara Dua Pengabdian diawali dengan testimoni para first readers. Mereka adalah Bunda Afifah Afra sebagai penulis, pegiat literasi, CEO penerbit mayor, Dewan Pertimbangan Forum Lingkar Pena dan ibu empat anak. Kemudian oleh Bunda Ika Indarwaty dalam kiprahnya sebagai Produsen, Distributor, dan Mitra Konfeksi. Owner Brand Kiyara, Ashfeeya, dan Saqeena Grosir. Hingga, Bunda Dewi Kori yang merupakan ibu dua anak dan Senior Book Advisor Perusahaan Mandira Dian Semesta.
***
Sungguh, jika kita peka terhadap segala Kebijakan dan Kebajikan Allah Subhana wa Ta’ala. Maka, akan terasa sekali indahnya ketetapan Rabb Semesta Alam. Demikian pula yang terjadi pada Ummi. Ketika lulus dari Ksatrian STPDN-IPDN Agustus 2006 silam, jiwa pembelajar ini inginnya menunda pernikahan dan segera melanjutkan jenjang pasca sarjana.
Akan tetapi, ibu kami -Eyang Putri atau Uti- memiliki pandangan tersendiri. Beliau menganggap, profesi sebagai Perempuan Birokrasi dan gelar lulusan praja, sudah cukup membuat nyali para pemuda di kampung kami menciut. Lantas, Uti membebaskan Ummi untuk segera mengupayakan pernikahan. Maka, tak sampai 8 bulan sejak kelulusan, melalui proses ta’aruf selama 40 hari dengan perantara para guru ngaji, Abi melamar Ummi. Dan Juni 2007 kami menikah.
Tentu, ada hikmah menyegerakan pernikahan. Sebab, hingga sudah berputri empat orang, Ummi belum juga lanjut kuliah S2 wkwk. Namun, jika dipikir-pikir sebenarnya kami sudah mendapat banyak ilmu kehidupan yang berlimpah. Hingga menderas inspirasi dalam berbagai karya cetak maupun postingan website RantauAnggun.com, sejak berumah tangga sampai sekarang.
Walaupun segenap tulisan itu tidak bisa dijadikan prasyarat administrasi peningkatan karier dan akademis. Tetapi, apresiasi para pembaca terutama ibu pekerja, ibu rumah tangga maupun gadis-gadis usia pranikah, Ummi anggap sama syahdunya dengan sidang tesis para guru besar. Ya, ini bercanda saja. Jangan diambil hati.
Maka, Ummi mengambil judul salah satu feature dalam website RantauAnggun.com : Antara Dua Pengabdian. Sebab, mungkin inilah keindahan takdir Allah yang diamanahkan ke pundak kami sekeluarga. Tiga perempuan dewasa dalam keluarga inti adalah ibu pekerja. Qodarullah, Uti, Ummi dan Tabi (adik perempuan) semuanya ASN. Meski Uti sudah purna tugas beberapa tahun silam. Namun, dari Beliaulah, kami putra-putrinya tersegarkan oleh siraman ilmu, pengalaman dan nasihat. Hingga Ummi dan Tabi menafasi kehidupan sebagai Perempuan Birokrasi. Mengabdi kepada keluarga sekaligus negara.
Penafian dari buku ini adalah, bahwa gambaran singkat kami sekeluarga bukanlah patokan mutlak family goals. Sungguh, kita semua sedang diuji dalam kemampuan masing-masing. Selayaknya fotografer, Ummi hanya mengambil sudut pandang tertentu saja. Masih banyak pose potret keluarga di tanah air yang dapat dijadikan teladan. Mari perluas hati, dan utamakan pemakluman. Segeralah berbaik sangka.
Terima kasih tak terhingga untuk keluarga besar Bapak Dasuki dan Almarhum Bapak Sungkono. Adik-adik kami. Anak-anak dan para ponakan. Sahabat hingga tetangga. Rekan sejawat. Pemerintah Kota Blitar. Dan, seluruh masyarakat maupun penggemar karya kami.
Selamat menyesap berbagai varian rasa hikmah kehidupan dalam buku ini. Semoga bermanfaat.
ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ
مَاشَاءَ اللهُ تَبَارَكَ اللهُ
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ



Komentar
Posting Komentar
Sila tinggalkan jejak komentar, saran, masukan, kritik dan segenap tanggapan. Ummi tidak setiap hari memeriksa blog ini. Namun, insyaa Allah diusahakan membalas semampunya apabila senggang. Terima kasih atas kunjungannya :)