Aksara Indurasmi
Sebenarnya,
cita-cita Ummi semasa kecil bukanlah menjadi karyawati pemda, juga bukanlah
penulis. Lucunya, diri ini pernah ingin menjadi seorang peragawati!
Namun,
perjalanan hidup membawa Ummi pada dunia aksara. And mostly, karya-karya ditulis
pada malam hari. Apalagi, jika sedang ada sinar rembulan, baik sabit, separuh
hingga purnama.
Maka,
jadilah setiap karya itu Ummi juluki sebagai kumpulan aksara
indurasmi.
Artinya, naskah yang ditulis ketika malam hari. Terutama saat diiringi sinar
rembulan.
Nagara Bhakti awalnya, merupakan naskah novel yang Ummi tulis secara solo. Sejak
tahun 2007 hingga 2015, ia berubah judul dan ditolak berbagai penerbit, lebih
dari 20 kali!
Qodarullaah, Ummi berkenalan melalui dunia maya, dengan seorang novelis sekaligus
CEO Penerbit Indiva Media Kreasi, yaitu Bunda Afifah Afra. Beliau lantas
memberi masukan untuk menyematkan daerah perbatasan sebagai latar tempat salah
satu tokoh dalam novel ini. Juga, menghimbau untuk mengurangi sisi melankolis
jalan cerita.
Tentu
saja, saran itu Ummi rasa agak berat untuk dikerjakan sendirian. Maka, setelah
membuat kerangka cerita kesekian kalinya, Tante Ranti Arsyana yang merupakan
sesama purna wanita praja seangkatan---saya ajak untuk bersama-sama menulis Nagara
Bhakti.
Tempo
menulis duet Nagara Bhakti, tidak selekas Teatrikal Hati. Bisa jadi, karena amanah
kami sebagai ibu dan perempuan pengabdi negeri, semakin padat. Bisa jadi,
karena ini menyangkut institusi dan lembaga di beberapa daerah, kami harus
berhati-hati mengolah data maupun informasi, tanpa mengurangi keindahan rasa
sastranya. Bisa jadi pula, karena sebagian kisah adalah fakta masa lalu, kami
harus menggali ingatan cukup dalam.
Apalagi,
karena menerima kenyataan, bahwa Nagara Bhakti adalah karya segmented, sehingga mengalami
penolakan penerbit berkali-kali. Mungkin, sudah saatnya kami membuka diri pada
alternatif jalur indie.
Waktu
itu, penghasilan Ummi masih sebatas gaji, tunjangan dan tambahan kinerja yang
belum memadai untuk dibagi lagi dengan kebutuhan di luar keluarga. Saya juga
tak tega membebani rekan duet dengan biaya penerbitan indie.
Namun,
seorang purna praja dari Depok, Pamanda Fathir bersedia menalangi biaya
penerbitan. Sungguh angin segar untuk berkarya di ranah kedinasan.
Maka,
medio tahun 2017, Nagara Bhakti terbit dengan lembaga Dapur Bukumu, sebagai
jembatannya. Beberapa purna praja membeli dan disumbangkan sebagai koleksi
perpustakaan daerah masing-masing. Bahkan, Pamanda Fathir sengaja mengunjungi
dan menghibahkannya kepada Perpustakaan IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.
Sesuai
itikad dan niat awal kami, seluruh keuntungan penjualan buku dihaturkan kepada
kedua orang tua Almarhum Pamanda Wahyu Hidayat---sebagai jantung cerita, cikal
bakal beralihnya STPDN kepada IPDN. Menyematkan tekad membara bagi Ummi, untuk
selanjutnya berkarya melalui penerbit indie.
Sementara
itu, di tahun yang sama, Yasmin lahir. Bertambah lagi amanah Ummi sebagai
seorang ibu. Lahan kosong telah terbeli dan sedikit demi sedikit, rumah impian
mulai terbangun.
Pada
ranah kesehatan mental, Ummi diuji dengan scizophrenia. Tepatnya sejak tahun
2014. Hal inilah yang membuat sempat hiatus dari kepenulisan dan menjeda untuk
menyapa sahabat di media sosial.
Maka,
sejak 2014 hingga 2017 ketika Nagara Bhakti terbit, Ummi menjalani berbagai metode
pengobatan. Mulai dari injeksi tiga bulanan, ruqyah, olahraga hingga benar-benar
menemui dokter spesialis jiwa. Selengkapnya, dapat dibaca pada buku Silaturahim
Alpukat dan
Juang Bahagia, ya!
Meanwhile, Nagara Bhakti merupakan salah satu guratan aksara pada
syahdunya indurasmi. Ia menanamkan hikmah sangat berharga. Yaitu, kesabaran dan
kesyukuran. Juga, penerimaan.
Jalan
hidup Ummi mungkin boleh terbilang plot twist. Namun, bisa jadi, itulah yang menjelma
kekuatan pada tiap karya yang tergurat. Meski terlihat rapuh dan terasa lemah,
dari yang seharusnya dimiliki oleh seorang purna wanita praja.
Akan tetapi, Ummi hanyalah manusia biasa. Perempuan penuh salah dan dosa. Hamba Allah yang tertatih-tatih menuju-Nya.
Semoga, melalui karya, rupiah tak seberapa, tenaga dan lisan yang sempat tertulis, terlakoni, tersalurkan maupun terucap---dapat bermanfaat dengan baik di dunia dan menjadi pembela di akhirat kelak. Aamiin Yaa Rabb.



Komentar
Posting Komentar
Sila tinggalkan jejak komentar, saran, masukan, kritik dan segenap tanggapan. Ummi tidak setiap hari memeriksa blog ini. Namun, insyaa Allah diusahakan membalas semampunya apabila senggang. Terima kasih atas kunjungannya :)