Chicken Soup Pamong
Dalam bingkai : Sampul depan dan belakang antologi Ksatrian bagi Kami
Malam itu, 8 Maret 2025, Ketua Tim Purna Praja Menulis -Prof. Muhadam Labolo- mengirim pesan pada Ummi, bahwa akan ada partisipasi naskah karya Praja IPDN, dalam proyek antologi Ksatrian bagi Kami. Beliau juga menyematkan nomer ponsel salah satu perwakilan mahasiswa, untuk saya hubungi lebih lanjut. Ternyata, ada sekitar empat belas orang praja yang akan turut serta pada buku ketiga ini.
Tentu saja, keikutsertaan empat belas orang praja adalah kabar gembira. Ketika buku antologi seri pertama berjudul Pamong di Bawah Gerhana terbit, lantas dibedah oleh kerjasama Wahana Bina Praja (BEM-nya Ksatrian) dengan Rohis IPDN saja, sudah sangat menyemangati kami, agar tetap konsisten pada jalur literasi. Nah, sekarang para praja ikut pula menggurat gagasan peranan Kawah Candradimuka bagi kehidupan mereka, tentu dapat menjadi nuansa baru bagi seri kepamongan yang sedang kami garap. Ditambah lima orang kontributor purna praja, maka jadilah di dalam buku antologi Ksatrian bagi Kami, terdapat sembilan belas karya yang terbagi atas tiga bab.
Terima kasih, Profesor Muhadam dan adik-adik praja, karena telah memperpanjang pancaran cahaya aksara kita. Semoga karya ini benar-benar bermanfaat.
Kenapa Tim Purna Praja Menulis, getol membuat antologi kepamongan hingga mencapai seri ketiga? Sebab, kenangan manis, pesan kesan penuh bahagia dan harapan yang indah tentang Ksatrian kita, sebaiknya diabadikan. Supaya terdapat rekam jejak yang dapat dihikmati adik-adik praja, generasi muda hingga masyarakat yang menyaksikan kiprah abdi negara se-nusantara.
Ummi pribadi selaku penghimpun naskah, ingin menempatkan berbagai antologi Tim Purna Praja Menulis, laksana kisah-kisah yang termaktub dalam narasi inspiratif Chicken Soup. Hanya saja, berlabel pamong.
Ummi sadar sepenuhnya. Bahwa, peran sebagai putri, istri, ibu, abdi negara, Purna Wanita Praja dan masyarakat ini belum ada seujung kuku perempuan lain di Indonesia. Namun, biidznillah penuh baik sangka pada Rabb Semesta Alam, segenap kontribusi ini bernilai mulia di hadapan-Nya, apabila keikhlasan, sabar serta syukur senantiasa disematkan.
Jika Allah memanjangkan usia dan menyehatkan diri ini, maka dengan seizin-Nya berbagai kiprah di atas akan terus rangkai merangkai. Membentuk perpaduan bunga pengabdian, yang semoga mengharum dan bermanfaat bagi sekitar. Jadi jariyah kerja dan sumbangsih aksara. Penolong di akhirat kelak. Semoga, Allahumma aamiin.
Pesan moral dari semua ini adalah : jangan abaikan sekecil apapun sinyal dari semesta. Karena kita tidak tahu, manakah yang akan memperbaiki nasib dan jiwa kita. Totalitas saja, lakukan kemanfaatan di setiap sisi. Semampu kita. Meski mungkin, berat bahkan mustahil dirasa.
ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ
مَاشَاءَ اللهُ تَبَارَكَ اللهُ
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ



Komentar
Posting Komentar
Sila tinggalkan jejak komentar, saran, masukan, kritik dan segenap tanggapan. Ummi tidak setiap hari memeriksa blog ini. Namun, insyaa Allah diusahakan membalas semampunya apabila senggang. Terima kasih atas kunjungannya :)