Gema Percakapan
Dalam Bingkai : Sampul depan antologi Anak Nakal
atau Banyak Akal?
Kenapa Ummi lebih sering menyapa pembaca melalui Facebook, dibanding media sosial lainnya? Saya memang punya akun instagram, tiktok dan bahkan website RantauAnggun.com, namun lebih kerap mengunggah gagasan lewat karya Mark Zuckerberg itu. Hingga, dengan sebagian besar penulis di negeri ini, kami berkenalan melalui fesbuk.
Mungkin, karena Facebook memberikan sarana prasarana yang memadai untuk Ummi menulis, sekaligus menyambung rasa dengan keluarga, sahabat dan pembaca. Jadi, sekalian saja berjuang secara daring di sana. Bahkan, berkarya juga ditempuhi melaluinya.
Buku antologi kedua yang Ummi tulis bersama para pengarang muda negeri, masih pada kisaran tahun 2011 adalah Anak Nakal atau Banyak Akal? Kali ini, saya menceritakan sulung kami, Mbak Aiko. Segala kelucuan, polah tingkah dan pertanyaannya yang polos dikemas dalam sebuah naskah pendek.
Pengalaman Ummi sebagai seorang ibu, tentu masih sangat sedikit. Apalagi waktu itu, saya mengiringi kiprah selaku orang tua dengan menafasi pengabdian sebagai pegawai pemerintah daerah. Tentu, tidak bisa menghadirkan raga seutuhnya untuk Mbak Aiko. Meski, insyaa Allah, doa dan kerinduan tetap berkelindan mewujud cinta yang luas buat putri kami.
Sesuai judul buku antologi ini, Ummi dan kawan-kawan sesama ibu penulis, ingin menyajikan sudut pandang baru. Bahwa keunikan sifat, perilaku dan pemikiran anak, yang kadang menyelisihi hal-hal pakem yang kita yakini selama ini---jangan keburu ditafsirkan sebagai kenakalan.
Apalagi, bagi seorang ibu, kita harus banyak menghembuskan keyakinan, harap dan impian yang baik terhadap tumbuh kembang anak. Hatta, kata hati, tetaplah berprasangka baik kepada Allah, bahwa apapun keadaan keluarga, itu adalah takdir terindah dan pasti penuh hikmah.
Buku ini juga membawa kesan mendalam bagi Ummi. Sebab, ketika itu terdapat fenomena perang pendapat antara ibu rumah tangga dan ibu yang bekerja, khususnya ibu karier kantoran.
Meski Ummi sempat mendapatkan tempaan jiwa raga di Kawah Candradimuka Lembah Manglayang, tetapi hati siapa yang tidak trenyuh saat disebut mengabaikan anak, hanya demi karier? Apalagi, ketika itu, Ummi juga mengalami krisis, karena beberapa pihak meragukan Abi. Hanya karena beliau bukan seorang purna praja dan pekerja dengan penghasilan tetap.
Hingga, Ummi sempat berpikir untuk resign saja, belajar menulis dengan sungguh-sungguh agar bisa berkarya dari rumah, dan melepaskan diri dari lingkungan yang tak sefrekuensi. Namun, Abi meredam niat itu. Malah beliau yang mengundurkan diri sebagai pengajar dan penghimpun dana sosial. Membuka usaha di rumah, agar bisa juga sekalian mengawasi pengasuhan anak-anak oleh tetangga dekat dan keluarga besar.
Ummi menata diri pelan-pelan. Tetap bekerja dengan hati yang rapuh. Menjalankan tugas rumah tangga sebagai ibu, dengan dukungan act of service yang juara dari Abi dan keluarga besar sebagai support system yang terbaik. Dan, pelan-pelan merombak novel tentang kehidupan di Ksatrian STPDN-IPDN semasa angkatan kami kuliah.
Malam-malam panjang Ummi isi dengan mempertanyakan diri sendiri. Benarkah jalan yang ditempuh ini? Mencoba mencari jawaban, dari percakapan yang bergema dalam kalbu.
Dengan Allah.
Dengan Allah.
ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ
مَاشَاءَ اللهُ تَبَارَكَ اللهُ
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ



Komentar
Posting Komentar
Sila tinggalkan jejak komentar, saran, masukan, kritik dan segenap tanggapan. Ummi tidak setiap hari memeriksa blog ini. Namun, insyaa Allah diusahakan membalas semampunya apabila senggang. Terima kasih atas kunjungannya :)