Guratan Selaksa Cinta
Dalam bingkai : Sampul depan dan belakang Juang Bahagia
Suatu saat, Ummi bercermin mematut diri, nyobain kerudung pasmina baru. Hasil honor sebagai narasumber kepenulisan di sekolah-sekolah Blitar Raya dan sekitarnya. Dalam hati, rasanya setara dengan menerima gaji dan tunjangan setiap bulan, sebagai Aparatur Sipil Negara.
Meskipun demikian, Ummi menjelaskan kepada para pelajar, bahwa kebahagiaan penulis salah satunya jika karya bisa terbit dalam bentuk buku cetak maupun elektronik, dan terjual laris, kemudian kita menerima royalti. Namun, pada kesempatan yang sama, saya juga menyampaikan, bahwa itu bukan hal yang utama.
Rob Bignell, seorang penulis dari Amerika, mengatakan bahwa kamu layak disebut sebagai pengarang, ketika pertama kali mengawali karya. Bukan tatkala bukumu terbit. Namun, hal-hal terkait peruntungan kita dalam kepenulisan berupa honor seperti ini, secara berkala dapat menumbuhkan semangat berkarya. Asal, sekali lagi, jangan dijadikan tujuan utama.
Ummi sendiri ketika ditanya para siswa, kenapa suka menulis? Pertama, alasannya untuk menggapai cinta Allah. Kedua, ingin bermanfaat bagi sesama. Terakhir, baru aktualisasi diri.
***
Menulis, bagi Ummi adalah perjuangan menuju Ridha Allah Subhana wa Ta’ala. Namun demikian, tak melulu lara nestapa yang dirasa. Momen merajut aksara termaknai kebahagiaan dalam relung hati ini.
Maka, biidznillaah, Ummi berkarya lagi. Buku itu diberi judul Juang Bahagia. Sebab, saya memang menggurat gagasan demi gagasan, hingga menjadi karya sederhana, dengan penuh selaksa cinta. Muara kebahagiaan berada.
Kali ini, Ummi bekerjasama dengan Penerbit Satoe, di bawah pimpinan Ayahanda Rafif Amir. Selain pendiri dan pemilik penerbitan, beliau merupakan eorang pegiat literasi dan Sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Sidoarjo.
Ummi mengenal beliau dari berbagai acara kepenulisan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Blitar. Lantas, tergerak hati untuk menerbitkan karya di Satoe.
Buku Juang Bahagia : Kisah-Kisah Tak Biasa Seorang Perempuan Pengarang, adalah sebuah perjalanan Ummi menafasi perjalanan dalam beraksara. Terbagi dalam prolog, lima bab dan epilog. Setiap babnya merupakan tahapan perjuangan lahir batin penulis dalam menyusuri episode kehidupan, hingga memaknainya pada tiap karya yang beredar di masyarakat.
Sesuai judulnya, saya ingin membagikan kepada khalayak, bahwa dunia kepenulisan ialah perjuangan membawa lentera ilmu dan hikmah. Namun demikian, tidak hanya lara nestapa yang dirasa. Menulis, juga membuahkan kebahagiaan dan ketenteraman. Berikut ini penjelasan tiap bab Buku Juang Bahagia.
Sekacip Pinang merupakan catatan pembuka, untuk mengajak pembaca mulai menata prasangka baiknya, tentang hakikat dan tujuan menulis. Sedangkan Bab 1 Benih Kesabaran Berkarya berisi kumpulan catatan saya tentang meluruskan niat dan langkah-langkah sederhana menafasi jati diri sebagai penulis, baik melalui sarana buku cetak maupun dunia maya. Kemudian, Bab 2 Dukungan Keluarga Penulis berisi kumpulan kisah peranan orang tua, saudara, suami dan anak dalam menguatkan identitas sebagai istri, ibu, kakak, menapaki kiprah kepenulisan dan pengabdian terhadap negara.
Lantas, Bab 3 Ujian Hidup Seorang Pengarang berisi pahit manisnya, terjal lapangnya dan semangat saya dalam menghadapi berbagai tantangan, musibah dan nikmat Allah. Lanjut Bab 4 Ragam Kiprah berisi rupa warna keseruan memberikan pelatihan literasi kepada masyarakat. Bab 5 Muara Seluruh Gagasan berisi doa dan harapan atas segenap karya. Hingga, Penghujung Kata merupakan catatan penutup.
Juang Bahagia juga istimewa, karena karya ini telah diluncurkan sekaligus dibedah oleh para alumni pamong dan praja di Perpustakaan IPDN Jatinangor. Sungguh kehormatan bagi Ummi, setelah hampir dua dasawarsa berkarya langsung pada masyarakat.
Dalam bingkai : Suasana launching dan bedah buku di Perpustakaan IPDN Jatinangor, 18 Juli 2025
***
Harimau mati, meninggalkan taring dan belangnya. Gajah mati, meninggalkan gading. Maka, sebagai manusia dalam tataran derajatnya sebagai makhluk paling mulia daripada jin bahkan malaikat, Ummi meninggalkan apa untuk generasi yang akan datang?
Imam Al Ghazali suatu saat pernah berkata, "Jika kamu bukan seorang raja, atau seorang ulama, namun ingin meninggalkan jejak dalam hidup, maka menulislah". Ini memang sebuah motivasi yang bagus, setidaknya untuk selalu memercikkan nyala semangat berkiprah dalam juang aksara.
Akan tetapi, sayangnya minat keluarga inti Abi dan Ummi---ehm, maksudnya para bidadari, hihi bukan pada tulisan ibunya. Mereka gemar apa saja yang menarik bagi remaja atau anak seumurannya, asal bukan karya Ummi aja. Ya ampun!
Mbak Aiko, Mbak Hana dan Mbak Yasmin menggemari komik, buku cerita bergambar, hingga novel anak. Tetapi, tampaknya kumpulan feature hikmah terlalu berat buat mereka. Apalagi Dedek Salma, yang menarik baginya paling gambar berwarna-warni tanpa tahu alur kisah.
Bahkan, ketika Ummi menawarkan Mba Ai untuk membuat akun fesbuk supaya kami bisa saling umpan balik, langsung ia gelengkan kepala cepat-cepat. "Fesbuk ngga seru, itu alat (komunikasinya) orang-orang tua!" Astaghfirullah, Ummi ga berenti ngikik
Masa' iya? Nunggu mereka berumur middle age baru baca buku-buku karya Ummi? Atau nunggu mereka dewasa, untuk memahami carut marut postingan ibunya.
Makanya, Ummi perluas lagi konsep pewarisan nilai. Kalau anak sendiri belum terlalu tertarik, karena usia yang masih belia. Setidaknya kalian, yang membaca tulisan saya, bisa memperoleh manfaat. Ujung-ujungnya juga, untuk bekal Ummi menghadap Allah kelak.
ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ
مَاشَاءَ اللهُ تَبَارَكَ اللهُ
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ





Komentar
Posting Komentar
Sila tinggalkan jejak komentar, saran, masukan, kritik dan segenap tanggapan. Ummi tidak setiap hari memeriksa blog ini. Namun, insyaa Allah diusahakan membalas semampunya apabila senggang. Terima kasih atas kunjungannya :)