Jawaban untuk Pembaca
Dalam Bingkai : Sampul depan dan belakang Silaturahim Alpukat
Selama memenuhi anjuran dokter untuk hiatus dari dunia kepenulisan dan sosial media, Ummi menerima berbagai panggilan tak terjawab, pesan masuk, surat elektronik hingga sapaan langsung. Rata-rata mereka bertanya, “Apa kabar?”, “Lama tak muncul, kamu baik-baik aja, kan?”, “Aku nggak tahu apa yang terjadi padamu. Namun, aku hanya bisa mendoakan”, “Kenapa media sosialmu dinonaktifkan? Padahal sungguh menginspirasi”, dan seterusnya.
Dokter pada fase perawatan pertama memang menganjurkan Ummi untuk rehat menulis dan bersosial media. Memperbanyak olahraga, aktivitas harian serta rekreasi. Seolah, sebagai istri dan ibu pekerja, kurang kegiatan diri ini wkwkwk.
Ummi tempuhi semua itu, demi kebaikan diri dan keberlangsungan manfaatnya. Apalagi, kesehatan saya tak hanya berguna untuk pribadi. Keberadaan kita mestilah dirasakan oleh keluarga dan masyarakat. Maka, meski sangat berat, dilepaslah sejenak kepenulisan dan dunia maya.
Namun, berbagai tanya dari sahabat maupun pembaca, tak ayal membuat Ummi merasa berarti dan berharga. Hingga tumbuh tekad, bahwa suatu saat, akan dijelaskan. Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit.
Penjelasan secara bertahap, Ummi lakukan mulai tahun 2023. Tidak secara langsung. Pada website RantauAnggun.com, beberapa karya diunggah, untuk memberitahukan pada khalayak bahwa Anggi masih ada. Hidup.
Kemudian, pada Facebook dan Instagram, Ummi memberikan keterangan pada setiap foto. Facebook lebih detail karena terdapat album foto. Setiap albumnya dinamai dengan beragam kiprah sebagai anggota keluarga, abdi negara, purna wanita praja, penulis, masyarakat hingga penyintas scizophrenia.
Tentu netizen kaget. Apalagi terkait amanah sebagai penyintas gangguan mental. Mereka pikir itu adalah hiatus biasa saja. Mungkin kecapekan. Banyak kegiatan. Atau padat tanggung jawab. Tetapi, pembaca tidak menyangka itu adalah scizophrenia.
Nyaris seluruh komentar, Ummi coba jawab dengan setenang mungkin. Memberitahukan kepada publik, bahwa diri ini adalah penyintas, berarti mengabarkan semakin dekat dengan kesembuhan. Jadi, gak boleh baper dan pantang nyolot nanggepin pembaca wkwkwk.
Setelah semua misteri terjawab. Kini saatnya mengabadikan setiap keping puzzle peranan. Jadilah buku bersampul hijau dan berlatar makanan pencuci mulut itu. Terbit pada tahun 2025. Berjudul Silaturahim Alpukat.
Beberapa first readers, terutama dari pihak purna praja, menyebut buku ini adalah perwujudan keberanian dan kejujuran. Namun, bagi Ummi, mungkin ini adalah sarana kebangkitan dan penerimaan diri. Sebuah pengakuan atas keterbatasan selaku hamba Allah yang tanpa daya.
Silaturahim Alpukat, juga merupakan jembatan hati Ummi dengan para pembaca. Atas segala tanya, meski mungkin tidak seluruhnya terjawab gamblang. Semoga menginspirasi dan bermanfaat.
ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ
مَاشَاءَ اللهُ تَبَارَكَ اللهُ
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ



Komentar
Posting Komentar
Sila tinggalkan jejak komentar, saran, masukan, kritik dan segenap tanggapan. Ummi tidak setiap hari memeriksa blog ini. Namun, insyaa Allah diusahakan membalas semampunya apabila senggang. Terima kasih atas kunjungannya :)