Kelahiran Penebus

 

Dalam bingkai : Sampul depan dan belakang Para Bidadari Lapis Legit


Bagi Ummi, kehadiran Mbak Yasmin dan Dedek Salma, merupakan penebusan untuk waktu-waktu membersamai Mbak Aiko dan Mbak Hana, di masa kecilnya. Dan, saya baru menyadarinya akhir-akhir ini.

Lantas, seperti kita ketahui bersama. Di instansi atau perusahaan manapun. Fresh graduated dianggap lebih kuat, selalu terbarukan dan bisa diandalkan.

Ummi melahirkan Mbak Aiko di usia yang bisa dianggap masih muda, untuk ukuran ibu pekerja lulusan kedinasan. Sebab, ada larangan menikah bagi praja selama pendidikan. Maka, ketika saya menikahi Abi, juga masih tergolong alumni yang paling awal melepas masa lajang.

Dulu ketika memasuki cuti persalinan Mbak Aiko pertengahan Maret tahun 2008, Ummi dibekali mesin pencetak dan kertas sebanyak lebih dari dua rim! Maka, ketika sulung kami lahir, sebagai ibu menyusui, saya juga produktif dalam mengabdi. Hingga bisa menghasilkan dokumen capaian kinerja se-kota setebal seribu halaman! 

Namun tenang, saya diberi kompensasi lumayan kok atas kerja lembur di rumah itu hehe.

Tahun 2011 ketika Aiko masih balita, Ummi pindah tugas ke kelurahan perbatasan kota dengan kabupaten. Masih tergolong muda, bahkan paling muda dibandingkan staf dan lurah di sana. Masih dianggap bisa diandalkan.

Maka, ketika Mbak Hana lahir tahun 2012. Ummi masih sering pulang malam. Baik itu karena acara-acara bersama warga seperti bersih desa, wayangan, musyawarah RT dan RW maupun mengerjakan administrasi kantor. Bahkan ketika 2014, Pilpres dan Pileg bersamaan, kami pulang pagi.

***

Ummi tahu, Abi telah menyadari konsekuensi logis memperistri perempuan birokrasi. Namun, rasa bersalah itu tetap hinggap di hati ini. Padahal, suami dan keluarga besar telah menjadi supporting system yang kuat hingga sekarang.

Ummi sempat mengira kalau sudah naik pangkat, akan berkurang tanggung jawabnya. Setidaknya hal teknis. Ternyata ini perkiraan yang keliru. Apalagi kalau sudah berurusan dengan dinas luar kota. Berkurang lagi kebersamaan dengan keluarga. Menambah rasa bersalah dalam hati, walaupun kelihatannya bisa bertugas sambil cuci mata.

Maka, pertengahan 2016 ketika Ummi mengandung. Hati saya bertekad, akan lebih bijak membagi waktu. Karena saat itu telah pindah tugas, dan pangkat serta jabatan saya naik.

***

Ternyata, tidak semudah itu. Namun juga tidak sesulit yang dibayangkan. Kehadiran Mbak Yasmin laksana penebus masa-masa membersamai Mbak Aiko dan Mbak Hana.

Dulu, mendampingi Mbak Aiko dan Mbak Hana serasa diburu-buru waktu. Selalu merasa sempit karena himpitan keadaan dan suasana hati. Tak pernah sempurna sebagai seorang ibu.

Sebenarnya, ketika berputri tiga-pun, Ummi bukannya lebih baik dalam melayani keluarga. Namun, rasanya hati bisa dilapang-lapangkan. Ditempa untuk selalu mempergilirkan sabar dan syukur. Atas semua karunia Allah.

***

Maka, ketika Ummi disetarakan sebagai tenaga fungsional di tempat kerja yang sekarang. Saya merengek kepada Abi, untuk sekali lagi program hamil. Walaupun Beliau sempat ragu, namun akhirnya tahun 2022 Dedek Salma lahir.

Dengan berbekal pemahaman. Bahwa dulu di kala masih muda, tidak ada istilah atasan terlalu memforsir kita. Karena untuk apa dididik di Lembah Manglayang, Jatinangor? Kalau bukan sebuah pertanda, bahwa semakin lama, pengabdian pada negara akan semakin kompleks dan perlu jerih payah untuk mempersembahkan yang terbaik.

Pemahaman yang berikutnya adalah, ketika menjadi pegawai middle age. Kita juga hendaknya tidak menyamaratakan dengan kondisi pada zaman dulu. Beda generasi, beda tantangan dan ujiannya. Maka, Ummi sering melarang staf lembur. Kalaupun terpaksa lembur, akan didampingi semampunya. Kalau perlu diberikan akomodasi.

Kini, setelah mengemban amanah tenaga fungsional. Yang kadang bisa merumuskan rencana kegiatan, juga bisa teknis. Kedua pemahaman di atas Ummi gunakan sesuai keadaan.

***

Terakhir, sebagai istri dan ibu, Ummi terus belajar sepanjang hayat. Contohnya bila selepas disapih, Mbak Aiko dan Mbak Hana lebih dekat dengan Abi. Saya tetap mengusahakan sabar dan syukur, agar bisa mendekati ikhlas. Karena biarpun sudah melahirkan mereka, wajar saja anak-anak dekat dengan ayahnya, yang lebih banyak membersamai semasa kecil.

Sedangkan Mbak Yasmin dan Dedek Salma, mewujud lumrahnya kodrat Ummi sebagai ibu. Karena mereka lebih dekat dengan saya. Sampai ini ditulis, kedua anak itu lebih manja dan lengket pada saya. Hingga tidurpun kami sekasur. 

Benar-benar menebus sulaman pemahaman sebagai ibu abdi negara. Semoga kelak, anak-anak memaafkan Ummi. Dan, masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya.

***

Memang, membersamai keluarga, tentu merupakan karunia sekaligus ujian bagi seorang ibu. Termasuk di antaranya, jika ia adalah perempuan pekerja. Hal tersebutlah yang hendak Ummi usung sebagai gagasan utama buku Para Bidadari Lapis Legit ini.

Akan tetapi, apa yang tertulis, jangan dibaca dengan saklek. Karena, segala sesuatunya sangat luwes, disesuaikan dengan keadaan kita masing-masing. Qodarullah, kami mengambil langkah-langkah tertentu yang tidak bisa dibandingkan dengan keluarga lain.

Sebagai ibu ketiga bidadari usia sekolah dan satu bidadari bungsu yang masih balita, tentu saja cerita keseharian Ummi mendampingi mereka tidak berbeda jauh dengan orang tua pada umumnya. Hectic tiap pagi, rungsing jelang jam masuk sekolah dan tak jarang puyeng oleh laporan Bapak Ibu ustadz ustadzah, maupun pengasuhnya, perihal polah tingkah mereka.

Namun, percaya atau tidak? Semua itu adalah bebungaan karunia yang membersamai amanah lain kami, sebagai hamba Allah Subhana wa Ta'ala. Mewangi dalam hati, mekar dalam impian dan doa, pada tiap jengkal langkah pengasuhan para bidadari. Hingga, bertumbuh terus rangkai merangkai, menjadi sulur kerinduan terhadap hikmah yang tersemat pula.

Pada pertengahan tahun 2024, ketika naskah ini ditulis, Mbak Aiko sudah duduk di bangku pertengahan jenjang SMA, Mbak Hana mengawali perjalanannya sebagai siswi SMP, Mbak Yasmin di tingkat kedua SD dan Dedek Salma telah disapih. Menyadarkan Abi Ummi, tentang ketahanan keluarga sebagai awal peradaban manusia.

Hingga, ketika pertengahan 2025, naskah ini terbit. Kami sadar, harus terus memperbaiki diri. Tidak hanya selaku tauladan bagi para bidadari. Namun, juga menafasi sifat sabar dan syukur sebagai hamba Allah, atas segenap karunia ini.

Mari kita susuri petualangan bersama kalian ya, Nak. Menapaki jejak rekam ketika mendampingi Mbak Aiko, Mbak Hana, Mbak Yasmin dan Dedek Salma, beriringan dengan pengabdian Ummi pada keluarga serta negara sekaligus.

Semoga kelak, jika kalian berkenan membaca karya Ummi yang tak seberapa ini. Bertumbuh rasa syukur pula, yang melekati sikap sabar, menjalani takdir Allah. Yakinlah, pasti sangat baik dan indah segala ketetapan serta ketentuan-Nya.

Apalagi, bila Allah mengizinkan kalian kelak juga menjadi seorang istri dan ibu. Maka, karya ini dapat jadi cermin jernih untuk terus menyayangi buah hati.

ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ
مَاشَاءَ اللهُ تَبَارَكَ اللهُ
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Komentar

Postingan Populer