Ksatrian, I’m in Love!

 

Dalam bingkai : Sampul depan dan belakang antologi Romansa Pamong



Karya pada penghujung tahun 2024, adalah seri kedua antologi kepamongan. Kali ini, setelah flyer ajakan menulis diunggah pada media sosial, terdapat sembilan purna praja yang berkontribusi dan satu orang menggunakan nama samaran. Judulnya Romansa Pamong, sudah jelas kan ini tentang apa? Hehehe.

Romansa Pamong, seperti seri pertama, dibuka dengan sambutan Ketua Tim PPM –Profesor Muhadam Labolo-, hanya saja kali ini dilengkapi foto beliau. Juga terdapat Sekacip Pinang (prolog) dan Penghujung Kata (Epilog). Namun, agaknya, tema seri kedua membuat kami harus lebih luwes untuk perwajahan buku. Maka, kami meminta penerbit merancang sampul bernuansa kartun. Pihak Indiva Mitra Pustaka sampai menghadirkan ilustrator dan kami ngubek-ubek dokumentasi penampilan purna praja, mengenakan seragam resmi. Jadilah, sampul yang bisa Anda lihat di awal tulisan ini.

Ummi sendiri, tentu saja menceritakan kisah yang sebenarnya sering diulang pada berbagai media sosial. Meski, dengan narasi dan diksi berbeda. Yaitu perjalanan hidup sebelum dan sesudah melalui ta’aruf[1] dengan Abi.

Sedangkan kontributor lain bercerita kisah-kisah roman semasa di Ksatrian, manis dan pahitnya. Ada yang berakhir di Gerbang PKD, terpisah setelah lulus, tidak berlanjut pada jenjang pernikahan. Ada juga yang berbau mistis. Ada pula kisah sejoli purna praja yang lanjut, sampai sekarang berumahtangga. Hingga, kegamangan menerima penugasan ataukah bakti pada keluarga.

Bagi Ummi, menyenangkan sekali proses antologi seri kepamongan ini. Selain bisa saling menguatkan semangat untuk berjuang pada ranah aksara, juga mempererat silaturahim. Bisa mengetahui kekinian keadaan purna praja.

Kisah kasih para pamong mungkin tidak terlalu berbeda dengan berbagai romansa manusia kebanyakan. Namun, dengan amanah yang diembannya atau penugasan kala menempuh pendidikan, tentu memiliki keistimewaan tersendiri. Apalagi terdapat beban selaku teladan bagi masyarakat. Jadi, para praja ataupun alumninya mesti berhati-hati dalam menambatkan hati dan melabuhkan segala rasa.

Kemuliaan itu yang sedang diusung para penulis. Tidak hanya ditujukan kepada adik-adiknya yang masih kuliah, tetapi juga kepada generasi muda agar mereka mengetahui. Selain besaran cinta dan kasih sayang terhadap anak manusia, ada tanggung jawab moral untuk menjaga kesuciannya beriringan dengan pengabdian–pada ranah sekecil apa pun–hingga kepemimpinan yang memiliki manfaat besar bagi perikehidupan bangsa. Semoga karya ini bermanfaat. Sampai jumpa pada seri buku pamong selanjutnya.

[1] Proses perjodohan Islami melalui perantara keluarga atau kerabat atau sahabat atau guru ngaji.


ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ
مَاشَاءَ اللهُ تَبَارَكَ اللهُ
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ


Komentar

Postingan Populer