Menghimpun yang Terserak

 

Dalam Bingkai : Sampul depan dan belakang Buku Mengeja Hikmah


Pandemi pada awal tahun 2020, membuat Ummi lebih banyak berada di rumah, oleh karena kebijakan Work from Office dan Work from Home, yang bergantian diberlakukan. Ketika bersama keluarga, terasa sekali mutiara-mutiara hikmah yang berkilau dan berlintasan dalam benak.

Mutiara hikmah yang berkilau-kilau itu, mulai Ummi himpun dari berbagai sarana berkarya. Endapan draft naskah di perangkat elektronik, postingan pada beranda akun media sosial, kotak keluar pada e-mail hingga tulisan dalam website RantauAnggun.com.

Lantas, berbagai hikmah itu Ummi pilah dan pisahkan dalam beberapa bab peranan. Antara lain Prolog, Taman Kisah Kasih Keluarga, Taman Juang Pengabdian, Taman Inspirasi Kehidupan, Bonus : Kenangan di Ksatrian dan Epilog. Setiap babnya menggambarkan isi, yaitu peranan diri sebagai anak pertama, istri, ibu, kakak, abdi negara, masyarakat dan purna wanita praja.

Maka, jadilah karya buku solo pertama Ummi yang berjudul Mengeja Hikmah. Sebuah lompatan besar, dari yang semula hanya berani nulis berjamaah lewat antologi dan menggurat kisah fiksi dengan berduet. Pelan namun pasti, mengokohkan langkah sebagai penulis memoar inspiratif.

Karya ini juga merupakan tanda syukur, karena sejak awal Agustus 2019, Ummi dipindahtugaskan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Blitar. Banyak rekan yang menyambut baik mutasi kerja ini. Mereka menganggap, antara passion dan pekerjaan sangat sesuai.

Ummi juga tidak menampik hal tersebut. Mungkin, inilah yang dimaksud dengan cintailah pekerjaanmu dan kerjakan yang kau cintai. Pasalnya, sejak pertama kali ditugaskan pada bidang perpustakaan hingga sekarang, berkecimpung dalam hal yang sangat ditekuni. Yaitu, kepenulisan. Sebut saja acara zoom meeting kepenulisan untuk masyarakat, workshop penulisan naskah pendek bagi pelajar SMP/MTs, bedah buku, lomba menulis buku bertema ciri khas daerah dan evaluasi pengembangan kekhasan koleksi---merupakan tugas sehari-hari.

Hari-hari sebagai penyintas scizophrenia juga mulai melandai. Ummi berdamai dengan keadaan diri. Rutin berkonsultasi dan meminum vitamin dari dokter. Terutama, semakin merapatkan durasi dan frekuensi ibadah. Sebab, takdir tak jarang bisa diubah dengan doa. Allah sungguh Maha Bijaksana.

Memang, animo pembaca dan warganet tak terlalu tinggi pada buku Mengeja Hikmah ini. Namun, bagi Ummi, karya tersebut adalah semangat kebangkitan jiwa raga. Juga melepaskan pemaafan atas luka masa lalu, yang bisa jadi itu tidak diniatkan mereka untuk melukai. Alhamdulillaah ‘alaa kulli hal.

Kehidupan keluarga kami sebenarnya sangat harmonis, meski ada riak-riak kecil sebagai pemanis. Juga, usaha rumahan Abi yang mengalami penurunan. Hingga beliau harus banting setir, melamar jadi sales sebuah perusahaan kebutuhan domestik. Inipun tak lama. Puncaknya, beliau mendaftarkan diri sebagai tenaga keamanan setempat.

Ummi mengagumi semangat Abi yang tidak pilih-pilih pekerjaan. Selama halal dan baik, beliau lakoni, sebagai tanggung jawab seorang kepala keluarga.

Ummi sering dawam-kan (biasakan) untuk mengucapkan terima kasih, atas berbagai kerja keras Abi, terutama di depan anak-anak. Bahkan, kami sampaikan kepada mereka, bahwa jalan rezeki dari Allah sangat luas. Tugas kita hanya berdoa dan berusaha, serta berserah.



ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ
مَاشَاءَ اللهُ تَبَارَكَ اللهُ
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ



 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan Populer