Perhiasan Rasa
Dalam Bingkai : Sampul depan dan belakang novel duet Teatrikal Hati
Ummi
semakin mencintai kepenulisan. Apalagi sejak dua buku antologi yang telah
diceritakan sebelumnya, peluang untuk menerbitkan karya semakin terbuka lebar.
Pada
kisaran tahun 2013, sebuah penerbit besar nasional sedang meluncurkan
berdirinya cabang untuk karya Islami. Yup, tentu kita sudah akrab dengan
Quanta, lini Islami Elexmedia Komputindo. Kala itu, mereka sedang membuka
peluang besar untuk naskah novel maupun motivasi dan pengembangan diri.
Entah
kenapa, Ummi langsung saja teringat dengan ibu penulis asal Kabupaten Jombang,
Provinsi Jawa Timur : Bunda Binta Al Mamba. Lantas, kami mulai membuat kerangka
dan naskah mentah novel duet tentang perempuan. Kelak, karya ini akan
dikenal dengan judul Teatrikal Hati.
Sementara
itu, pada kehidupan berkeluarga, Ummi telah dikaruniai dua putri. Mbak Hana
lahir pertengahan tahun 2011. Abi mulai ramai usahanya. Yaitu sebagai penyalur
gas elpiji, galon air mineral dan binatu.
Dalam
pekerjaan, Ummi telah dipromosikan sebagai perangkat kelurahan di wilayah
perbatasan Kota Blitar. Kami juga mulai menabung sedikit demi sedikit untuk membeli
lahan kosong. Harapannya, kelak bisa membangun rumah impian.
***
Teatrikal Hati merupakan karya dengan alur cerita maju mundur. Berkisah tentang empat
wanita dalam berbagai latar waktu dan tempat. Ummi kebagian jatah menulis tokoh
Gwen dan Zahra.
Dukungan
keluarga sangat terasa dalam proses menulis Teatrikal Hati. Oleh karena waktu pagi
hingga sore hari telah habis untuk mengabdi pada Pemerintah Kota Blitar. Maka,
Ummi menulis setelah seluruh kebutuhan keluarga terpenuhi. Yaitu malam sekali,
kala anak-anak sudah tidur. Rupanya, meski bekerja dari dalam rumah, Bunda
Binta juga memiliki ritme yang hampir sama, dalam menjalani proyek ini.
Abi
mendukung dengan act of service yang tulus. Membuatkan kopi dan mie rebus.
Memijiti Ummi ketika mengetik naskah. Hingga melayani kebutuhan anak-anak di
malam hari.
Alhamdulillaah, semua jerih payah itu tertebus dengan diterimanya
naskah kami oleh Penerbit Quanta. Royalti yang lumayan. Teatrikal
Hati terpajang
pada rak new arrival maupun best seller, di toko buku-toko buku berbagai daerah.
Hingga, bertambahlah friendlist maupun follower media sosial, selain
teman sekolah, teman kuliah dan rekan kerja serta sesama penulis. Mereka adalah
para pembaca karya kami.
Bahkan,
yang membuat haru, muncul berbagai ulasan pada beragam media digital. Mulai good
reads, blog,
dan paltform lainnya. Hingga puncaknya, Teatrikal Hati menjadi bahan penelitian skripsi seorang
mahasiswi jurusan Sastra Indonesia. Ini, sungguh melampaui perkiraan kami.
Novel
duet Islami Teatrikal Hati juga menjadi karya penghibur bagi Ummi
pribadi. Sebab, novel tentang Ksatrian STPDN-IPDN, semasa Almarhum Pamanda
Wahyu Hidayat, ditolak berbagai penerbit. Alasannya beraneka ragam, bahkan ada
salah satu editor yang menyebut karya ini seperti buah busuk. Kalau nggak dapat
penempaan di Kawah Candradimuka, pasti Ummi sudah patah semangat.
Kadang,
Ummi merasa skenario Allah sangat unik. Naskah novel tentang Ksatrian, yang
Ummi beri judul Nagara Bhakti itu, telah dipikirkan sejak kuliah, lulus,
menikah dan punya dua anak. Malah melalang buana kesana kemari, karena ditolak
berbagai penerbit.
Justru,
Teatrikal Hati yang hanya ditulis kurang dari dua bulan dan diajukan pertama kali,
langsung diterbitkan. Dapat royalti pula.
Akhirnya,
Ummi berbaik sangka kepada Allah. Semua ini tak terasa mudah dan mulus-mulus
saja, boleh jadi untuk menguji kesabaran. Apalagi, pada tulisan sebelumnya, ada
beberapa pihak yang memandang Abi dengan remeh. Hanya karena latar belakang
beliau yang bukan purna praja dan bukan ASN.
Hikmahnya
baru Ummi rasakan belasan tahun sejak naskah pertama terbit dan beredar di
tengah khalayak. Bahwa semua penolakan berbagai penerbit dan keraguan terhadap sosok
Abi itulah, yang menjadi perhiasan rasa, pada setiap karya.
Perhiasan rasa adalah kesan yang tersemat pada setiap sambutan pembaca. Mereka bilang,
seolah terhanyut dalam untaian kalimat yang Ummi tuliskan. Membuat betah
menyeksamai hingga akhir.
Perhiasan rasa seolah menjadi film dokumenter dalam bentuk aksara. Sehingga pembaca
seperti mengalami apa yang Ummi tuliskan pada setiap karya.
Perhiasan rasa adalah kejadian kompleks, yang menurut pembaca masih bisa dipahami. Karena tutur Ummi yang menggunakan penyampaian sederhana, namun mengena.

Komentar
Posting Komentar
Sila tinggalkan jejak komentar, saran, masukan, kritik dan segenap tanggapan. Ummi tidak setiap hari memeriksa blog ini. Namun, insyaa Allah diusahakan membalas semampunya apabila senggang. Terima kasih atas kunjungannya :)